Jumat, 22 Juli 2011

Right Target Dan Right Plan

Right Target Dan Right Plan by.script-video.com
Fail to plan means plan to fail. Jika Anda gagal membuat rencana berarti Anda berencana untuk gagal. Begitulah ungkapan yang sering Anda dengar manakala Anda dihadapkan untuk sebuah tugas dalam profesi Anda.

Apabila Anda ingin mencapai target tertentu, maka Anda harus menyiapkan rencana bagaimana Anda akan mencapainya. Pencapaian tidak datang dengan tiba-tiba. Rencana yang tepat, akurat, dan matang biasanya memiliki kemungkinan besar untuk berhasil. Sedangkan, yang tanpa rencana akan berbuntut kegagalan.

Sebagai contoh, apabila Anda adalah seorang tenaga penjual (salesman) yang diberi target oleh atasan Anda untuk menjual 1.000 unit barang, bagaimana reaksi Anda? Ada sebagian yang mungkin akan mengatakan targetnya terlalu tinggi dan agak sulit untuk dicapai. Ada sebagian lain yang mungkin akan mengatakan target terlalu tinggi namun masih bisa dicapai.

Ada yang optimistis namun ada juga yang pesimistis. Ada yang membuat rencana namun ada juga yang tidak jelas mau bagaimana. Tentunya ada banyak sekali reaksi yang berbeda dalam menyikapinya. Namun, seorang tenaga penjual yang baik memiliki sikap mental yang positif sehingga melihat target sebagai sebuah tantangan dan akan berusaha semaksimal mungkin untuk mencapai target tersebut.

Kemudian, dia akan menyiapkan rencana untuk mencapainya, melakukan perhitungan sederhana terhadap situasi dan kondisinya, dilanjutkan dengan memanfaatkan beragam peluang yang ada. Pada banyak perusahaan besar, target yang diberikan direksi ketika sampai kepada tim lapisan bawah akan menggelembung paling tidak 20–30 persen dari angka sesungguhnya.

Manajer puncak akan menaikkan sedikitnya 10 persen. Manajer operasional mungkin akan menaikkan 10 persen lagi sebelum angka target tersebut disampaikan kepada tim di lapangan. Mengapa demikian? Mereka perlu menyiapkan 'buffer' atau penyangga kalau-kalau saja tim di lapangan hanya mencapai 80 persen.

Inilah realitas yang ada. Mereka tidak mau ambil risiko tidak mencapai target. Persoalan apakah ini? Saya percaya bahwa jika target Anda adalah 1.000 unit, maka Anda harus membuat rencana yang 1.000 unit juga atau bahkan lebih. Bila rencana Anda hanya 800 unit maka mustahil Anda akan mencapai 1.000 unit.

Ironisnya, banyak yang hanya membuat rencana 800 unit dan berhenti hanya sampai di situ lantaran kehabisan ide, malas berpikir lagi, puas diri, percaya bahwa 80 persen sudah cukup baik, dan percaya pada strategi  "go with the flow" yakni strategi "jalankan saja dulu, pikirkan kemudian".

Alhasil, pada kurun waktu yang ditentukan, Anda tidak akan mencapai target 1.000 unit tersebut. Ini bukanlah gaya seorang tenaga penjual yang baik. Itulah mengapa manajemen dalam perusahaan tidak mau mengambil risiko berhadapan dengan mentalitas yang demikian sehingga dari target awal perlu diberikan buffer sebanyak 20–30 persen.

Bila tim di lapangan hanya mencapai 80 persen, maka sebenarnya perusahaan tetap mencapai 100 persen dari angka awal sebelum dilakukan penyesuaian. Menarik untuk dicermati ketika Anda menentukan target yang lebih tinggi maka pencapaian Anda juga lebih tinggi. Mari kita lihat ilustrasi dari dua situasi berikut:

Situasi 1


Anda menentukan target 1.000 unit dan membuat rencana untuk mencapai 1.000 unit. Pada akhirnya Anda mencapai 900 unit. Secara persentase, pencapaian Anda adalah 90 persen.

Situasi 2


Anda menentukan target yang lebih rendah yaitu 800 unit dan membuat rencana 800 unit. Pada akhirnya Anda mencapai 800 unit. Secara persentase, pencapaian Anda adalah 100 persen.

Meski pada situasi pertama pencapaian Anda 90 persen dan pada situasi kedua pencapaian 100 persen, Anda akan menjadi individu yang lebih bangga pada situasi pertama. Mengapa? You stretch yourself, raise the bar and set a higher standard. Anda meregang diri, menantang diri Anda dengan menaikkan standar yang lebih tinggi.

Ternyata hasil akhir Anda lebih tinggi daripada sekadar mencapai 100 persen seperti pada situasi kedua. Apa pelajaran yang dapat diambil dari kejadian ini? Don’t be complacent! Don’t settle for mediocrity! Jangan menjadi puas diri! Jangan berhenti hanya menjadi orang biasa/kebanyakan.

Anda memiliki potensi dan Anda perlu menyadarinya. Jadi, bagaimana sebenarnya menentukan target yang tepat (right target) dan bagaimana membuat rencana yang tepat (right plan)? Target yang tepat adalah target yang menantang yaitu yang tidak sekadar tinggi namun harus realistis dan tetap memotivasi Anda untuk mengejarnya selain tentunya harus spesifik, memiliki tenggat waktu dan juga terukur.

Ketika berhadapan dengan target, jujurlah dengan diri Anda. Don’t underestimate yourself. Sementara itu, rencana yang tepat adalah rencana yang disusun dengan tolak ukur target. Tidak kurang sedikit pun dari target.

Bila belum sama dengan angka target, pikirkan dan tambahkan kembali rencana lainnya. Jangan berhenti menyusun rencana sebelum sesuai dengan target. Salam transformasi! (MEN JUNG, MM Author – Go To The Next Level!)

Creative Sales

0 komentar:

Poskan Komentar

Isi Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More